TEORI HANS JURGEN EYSENCK
Hosianna
Ronauli
19310410032
Psikologi
Kepribadian II
Dosen
Pengampu: Fx.Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A
Hans Jurgen Eysenck lahir di Jerman pada tanggal 4
maret 1916 dan meninggal pada 4 september 1997. Ayahnya adalah seorang actor
dan bercerai dengan ibunya saat ia baru berusia 2 tahun. Eysenck kemudian
dirawat oleh neneknya. Dia hidup bersama neneknya sampai usia 18 tahun, ketika
Nazi masih berkuasa. Sebagai seorang simpatisan yahudi, tentu saja kehidupannya
terancam. Dia kemudian pindah ke inggris guna melanjutkan pendidikannya. Dia menerima
gelar doctor di bidang psikologi dari University of London tahun 1940. Selama perang
dunia 2, dia bekerja sebagai psikolog dibagian gawat darurat perang. Disinilah dia
melakukan penelitian tentang ke validan dan diagnosis-diagnosis psikiatri. Hasil
penelitian inilah yang kemudian membuatnya semakin menantang psikologi klinis
sepanjang karirnya.
Menurut Eysenck kepribadian adalah keseluruhan pola
tingkahlaku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh
keturunan dan lingkungan. Pola tingkahlaku itu berasal dan dikembangkan melalui
interaksi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir tingkahlaku;
sektor kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif
(temperament), sektor somatik (constitution).
Hirarki Faktor-Faktor Kepribadian
Kepribadian sebagai organisasi tingkahlaku oleh
Eysenck dipandang memiliki empat tingkatan hirarkis, beturut-turut dari hirarki
yang tinggi ke hirarki yang rendah: tipe – traits – habit – respon spesifik.
1) Hirarki
tertinggi: Tipe, kumpulan dari trait, yang mewadahi kombinasi trait dalam suatu
dimensi yang luas.
2) Hirarki
kedua: Trait, kumpulan kecenderungan kegiatan, koleksi respon yang saling
berkaitan atau mempunyai persamaan tertentu. Ini adalah disposisi kepribadian
yang penting dan permanen.
3) Hirarki
ketiga: Kebiasaan tingkahlaku atau berfikir, kumpulan respon spesifik,
tingkahlaku/fikiran yang muncul kembali untuk merespon kejadian yang mirip.
4) Hirarki
terendah: Respon spesifik, tingkahlaku yang secara aktual dapat diamati, yang
berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian.
Tipe
Eysenck menemukan dan mengelaborasikan tiga tipe –
E,N,P- tanpa menyatakan secara eksplisit peluang untuk menemukan dimensi yang
lain pada masa yang akan datang. Neurotitisme dan Psikotisme itu bukan sifat
patologis, walaupun tentu individu yang mengalami gangguan akan memperoleh skor
yang ekstrim. Tiga dimensi itu adalah bagian normal dari struktur kepribadian.
Semuanya bersifat bipolar; ekstraversi lawannya introversi, neurotisisme
lawannya stabilita, dan psikotisme lawannya fungsi superego. Semua orang berada
dalam rentangan bipolar itu mengikuti kurva normal, artinya sebagian besar
orang berada ditengah-tengah polarisasi, dan semakin mendekati titik ekstrim,
jumlahnya semakin sedikit.
1. Ekstraversi
Konsep Eysenck mengenai ekstraversi
mempunyai sembilan sifat sebagaimana ditunjukkan oleh trait-trait dibawahnya,
dan introversi adalah kebalikan dari trait ekstraversi, yakni: tidak sosial,
pendiam, pasif, ragu, banyak fikiran, sedih, penurut, pesimis, penakut. Eysenck
yakin bahwa penyebab utama perbedaan antara ekstraversi dan introversi adalah
tingkat keterangsangan korteks (CAL = Cortical Arausal Level), kondisi
fisiologis yang sebagian besar bersifat keturunan. CAL adalah gambaran
bagaimana korteks mereaksi stimulasi indrawi. CAL tingkat rendah artinya
korteks tidak peka, reaksinya lemah. Sebaliknya CAL tinggi, korteks mudah
terangsang untuk bereaksi. Orang yang ekstravers CAL-nya rendah, sehingga dia
banyak membutuhkan rangsangan indrawi untuk mengaktifkan korteksnya. Sebaliknya
introvers CAL-nya tinggi, dia hanya membutuhkan rangsangan sedikit untuk
mengaktifkan korteksnya. Jadilah orang yang introvers menarik diri, menghindar
dari riuh-rendah situasi disekelilingnya yang dapat membuatnya kelebihan
rangsangan
2. Neurotisisme
Seperti ekstraversi-introversi,
neurotisisme-stabiliti mempunyai komponen hereditas yang kuat. Eysenck
melaporkan beberapa penelitian yang menemukan bukti dasar genetik dari trait
neurotik, seperti gangguan kecemasan, histeria, dan obsesif-kompulsif. Juga ada
keseragaman antara orang kembar-identik lebih dari kembar-fraternal dalam hal
jumlah tingkahlaku antisosial dan asosial seperti kejahatan orang dewasa,
tingkahlaku menyimpang pada anak-anak, homoseksualitas, dan alkoholisme. Orang
yang skor neurotiknya tinggi sering mempunyai kecenderungan reaksi emosional
yang berlebihan dan sulit kembali normal sesudah emosinya meningkat. Namun
neurotisisme itu bukan neurosis dalam pengertian yang umum. Orang bisa saja
mendapat skor neurotisisme yang tinggi tetapi tetap bebas dari simpton gangguan
psikologis. Menurut Eysenck, skor neurotisisme mengikuti model stres-diatesis
(diathesis-stress model); yakni skor N yang tinggi lebih rentan untuk terdorong
mengembangkan gangguan neurotik dibanding skor N yang rendah, ketika menghadapi
situasi yang menekan.
3. Psikotisme
Orang yang skor psikotisisme-nya
tinggi memiliki trait agresif, dingin, egosentrik, tak pribadi, impulsif,
antisosial, tak empatik, keatif, keras hati. Sebaliknya orang yang skor
psikotisismenya rendah memiliki trait merawat/baik hati, hangat, penuh
perhaitan, akrab, tenang, sangat sosial,empatik, kooperatif, dan sabar.
Kecerdasan
Eysenck sesungguhnya ingin memasukkan kecerdasan
sebagai dimensi keempat dari kepribadian. Seperti tiga dimensi yang lain,
kecerdasan lebih banyak dipengaruhi oleh keturunan. Namun penelitian disekitar
kecerdasan masih belum dapat mengelaborasi faktor kecerdasan itu dengan
keseluruhan kepribadian manusia. Banyak kontroversi tentang hubungan antara
kecerdasan dengan ras, yang belum terselesaikan.
Pembentukan
Kepribadian
Teori kepribadian Eysenck menekankan peran herediter
sebagai faktor penentu dalam perolehan trait ekstraversi, neurotisisme, dan
psikotisisme (juga kecerdasan). Sebagian didasarkan pada bukti hubungan
korelasional antara aspek-aspek biologis, seperti CAL dan ANS dengan
dimensi-dimensi kepribadian. Eysenck
juga berpendapat, bahwa semua tingkahlaku yang tampak –tingkahlaku pada hirarki
kebiasaan dan respon spesifik- semuanya (termasuk tingkahlaku neurosis)
dipelajari dari lingkungan. Eysenck berpendapat inti fenomena neurotis adalah
reaksi takut yang dipelajari (terkondisikan). Hal itu terjadi manakala satu
atau dua stimulus netral diikuti dengan perasaan sakit/nyeri fisik maupun
psikologis. Kalau traumanya sangat keras, dan mengenai seseorang yang faktor
hereditasnya rentan menjadi neurosis, maka bisa jadi cukup satu peristiwa
traumatis untuk membuat orang itu mengembangkan reaksi kecemasan dengan
kekuatan yang besar dan sukar berubah (diathesis stress model).
Sumber : Alwisol. 2006. Psikologi Kepribadian.
Malang: UMM Press

Komentar
Posting Komentar